
JURNAL4D – Noda Hitam Timnas Argentina , Perjalanan Tim Nasional Argentina di panggung Piala Dunia memang selalu di penuhi kejutan. Di balik dominasi dan deretan prestasi memukau, langkah La Albiceleste ternyata kerap di bayangi oleh berbagai polemik serta keputusan kontroversial. Sepanjang sejarah turnamen empat tahunan ini. Ada beberapa momen panas yang meninggalkan catatan kelam sekaligus memicu perdebatan panjang di kalangan pencinta sepak bola dunia.
Berikut adalah 5 insiden paling kontroversial yang pernah melibatkan Timnas Argentina di Piala Dunia:
1. Noda Hitam Timnas Argentina Fenomena ‘Hand of God’ Maradona (Piala Dunia 1986)
Pertemuan Argentina dan Inggris pada perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko berlangsung dalam tensi tinggi. Terlebih laga ini terjadi hanya empat tahun usai konflik politik Perang Falkland. Bertanding di Stadion Azteca pada 22 Juni 1986, momen paling legendaris tercipta pada menit ke-51.
Maradona melakukan manuver ke lini pertahanan lawan sebelum memberikan operan kepada Jorge Valdano. Bek Inggris, Steve Hodge, berusaha membuang bola, namun sapuannya justru melambung liar ke arah gawang sendiri. Kalah dalam duel tinggi badan melawan kiper Peter Shilton. Maradona dengan cerdik melompat sambil menyentuh bola menggunakan tangan kirinya hingga masuk ke gawang.
Tanpa adanya teknologi Video Assistant Referee (VAR). Kala itu, wasit Ali Bennaceur dan hakim garis Bogdan Dochev tidak melihat pelanggaran tersebut secara jelas. Gol tersebut tetap di sahkan meski di hujani protes keras dari para pemain Inggris. Aksi yang kemudian di juluki “Gol Tangan Tuhan“ ini resmi menjadi salah satu insiden paling kontroversial sepanjang sejarah sepak bola.
2. Noda Hitam Timnas Argentina Skandal ‘Air Suci’ Beracun (Piala Dunia 1990)
Di babak 16 besar Piala Dunia 1990 di Italia, Argentina bertemu rival abadi mereka, Brasil. Berbeda dari edisi sebelumnya, penampilan Argentina kala itu kurang meyakinkan dan hanya lolos lewat jalur tim peringkat ketiga terbaik, sementara Brasil tampil sempurna di fase grup.
Di tengah cuaca panas Kota Turin, laga sempat terhenti ketika Pedro Troglio mengalami cedera. Tim medis Argentina masuk ke lapangan membawa botol minuman dan membagikannya, termasuk kepada bek Brasil, Branco. Anehnya, tak lama setelah meminum air tersebut, Branco merasa pusing hebat, kehilangan fokus, dan performanya merosot tajam.
Laporan dari Diario AS menyebutkan bahwa timbul dugaan kuat air minuman tersebut telah dic ampur obat penenang (Rohypnol). Isu ini makin memanas setelah Maradona dalam sebuah acara televisi (Mar de fondo) memberikan pernyataan yang seolah membenarkan trik kotor tersebut. Momen ini di kenal luas sebagai skandal El Bidon de Branco atau “Skandal Air Suci”.
3. Pengusiran Maradona Akibat Kasus Doping (Piala Dunia 1994)
Misi Argentina menjuarai Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat di awali dengan tren positif usai menumbangkan Yunani dan Nigeria di fase grup. Namun, langkah manis tersebut mendadak berubah menjadi mimpi buruk saat sang kapten, Maradona, gagal dalam tes urin.
Maradona di nyatakan positif mengonsumsi ephedrine, zat stimulan terlarang yang berfungsi meningkatkan stamina serta mempercepat denyut jantung. Akibatnya, FIFA menjatuhkan sanksi skorsing selama 15 bulan kepadanya.
Dampak kepergian Maradona sangat terasa pada mental tim. Tanpa sang pemimpin, La Albiceleste langsung takluk 0-2 dari Bulgaria di laga akhir grup, sebelum akhirnya di paksa angkat koper lebih awal usai di kalahkan Rumania 2-3 di babak gugur.
4. Kerusuhan Usai Singkir dari Tuan Rumah (Piala Dunia 2006)
Era baru Argentina di bawah asuhan Jose Pekerman pada Piala Dunia 2006 Jerman sebenarnya di isi materi pemain berbakat seperti Javier Mascherano hingga wonderkid Lionel Messi. Sayang, langkah mereka terhenti di babak perempat final usai kalah adu penalti 2-4 dari tim tuan rumah.
Begitu peluit panjang di bunyikan, emosi yang terpendam meledak menjadi bentrokan fisik antar pemain. Leandro Cufre yang bahkan tidak di mainkan dalam laga tersebut terekam menendang Per Mertesacker dari belakang, yang berujung pada sanksi larangan tanding 4 laga bagi Cufre.
Kapten Jerman, Michael Ballack, mengungkapkan bahwa beberapa pemain Argentina sempat melakukan intimidasi verbal saat adu penalti. Sebaliknya, kubu Argentina berdalih provokasi berawal dari selebrasi gestur ‘diam’ yang di lakukan Tim Borowski ke arah tribune mereka.
5. Hujan Kartu & Tuduhan Bias Keputusan Wasit (Piala Dunia 2026)
Kiprah Argentina di Piala Dunia 2026 kembali di terpa gelombang kritik. Sejumlah pengamat dan publik menyoroti kepemimpinan wasit yang di nilai terlalu sering menguntungkan anak asuh Lionel Scaloni, hingga memicu rumor tak sedap soal pengaturan pertandingan.
Tudingan ini bermula sejak fase grup kala Lionel Messi terhindar dari kartu merah usai melakukan pelanggaran keras terhadap kapten Aljazair, Aissa Mandi. Suasana makin keruh di fase gugur ketika keputusan VAR menganulir gol-gol krusial dari lawan mereka, termasuk Mesir di babak 16 besar dan Spanyol di partai puncak.
Tak hanya soal wasit, gaya bermain Argentina yang terkesan terlampau agresif turut menjadi sorotan saat berhadapan dengan Cape Verde, Mesir, Swiss, hingga Inggris. Puncaknya terjadi di laga final bertensi tinggi melawan Spanyol yang di warnai kartu merah Enzo Fernandez. Hingga aksi pemukulan fisik yang melibatkan Leandro Paredes dan Nahuel Molina setelah laga usai.

This really answered my problem, thank you!